Kritik atas Fondasi Sistem Ekonomi Kapitalis

19 02 2012

Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem yang memiliki tiga paradigma dasar: (1) pandangan tentang kelangkaan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia (2) teori tentang nilai (3) peran harga dalam mengendalikan kegiatan ekonomi (produksi, konsumsi, dan distribusi). Ketiga hal ini adalah kerangka dasar bangunan sistem ekonomi kapitalis, sekaligus menjadi titik tolak kehancurannya. Uraian berikut akan menjelaskan secara logis mengapa fondasi sistem ekonomi kapitalis tersebut adalah lemah dan sepantasnya segera diganti.

Kritik Pertama

Pandangan kapitalisme terhadap kebutuhan manusia dan menyatakannya bahwa ia bersifat tidak terbatas, sedangkan daya barang dan jasa sangat terbatas, memunculkan anggapan bahwa solusi bagi permasalahan ini adalah dengan meningkatkan produksi barang dan jasa setinggi-tingginya. Pandangan ini keliru secara faktual. Alasannya, karena bertentangan dengan realitas yang menampilkan bahwa kebutuhan manusia itu sebenarnya terbatas. Sebagai pertanyaan argumentatif, bukankah di dunia ini tidak ada manusia yang mampu makan lebih dari tiga piring nasi dalam satu waktu? Bila ada, apakah orang itu juga mampu memakan sepuluh piring nasi dalam satu waktu? Tentu saja tidak ada. Dengan demikian, paradigma pertama dalam sistem ekonomi kapitalis jelas-jelas salah. Sebab problem ekonomi yang sebenarnya bukan soal kelangkaan, melainkan soal bagaimana setiap individu bisa mengakses barang dan jasa atau memperoleh keduanya (distribusi). Ini merupakan kritik terhadap substansi teori. Adapun secara akibat yang ditimbulkan oleh penerapan teori, maka bisa terlihat jelas bahwa teori kelangkaan merupakan teori yang berbahaya karena menimbulkan berbagai efek negatif seperti terjadinya penimbunan barang, tingkat kekayaan negara hanya diukur secara makro—tanpa memperhatikan siapa saja pemiliknya—serta berubahnya manusia menjadi makhluk-makhluk egois dan ‘pemangsa’ bagi sesamanya.

Kritik Kedua

Pandangan kapitalisme terhadap nilai juga merupakan suatu kekeliruan. Pasalnya, konsep nilai yang awalnya bertujuan untuk membentuk konsumen dan produsen menjadi rasional dan masing-masing mendapat kepuasan atau keuntungan secara optimal, justru pada praktiknya malah mengubah manusia menjadi makhluk-makhluk ‘pemburu’ nilai dan makhluk konsumtif yang tidak manusiawi.

Manusia disebut ‘pemburu’ nilai bila ia memberi barang atau jasa bukan karena kebutuhan, tetapi karena nilai yang diberikan (total give/nilai uang yang dikeluarkan) dianggap lebih rendah dari nilai hasil (total get) yang didapatkan. Dan jumlah manusia yang seperti ini, sangat banyak sekali, hasil ‘binaan’ sistem ekonomi kapitalis. Betapa buruknya manusia-manusia yang seperti ini, bisa dilihat dari penuturan seorang lifestyle consultant terkenal Amelia Masniari.

“Saya pernah diundang ke sale-nya Bottega Venetta yang harganya, kok tega-teganya itu sebuah tas Bottega, saya biasa menyebutkannya, bisa membayar DP sebuah rumah. Buat brand ini, label harga Rp 30 juta-50 juta biasa aja deh. Alangkah terkejutnya saya, ketika hadir di sale itu, butik yang tidak terlalu luas tetapi eksklusif itu, sudah penuh sesak oleh perempuan-perempuan cantik yang lebih mirip piranha buas yang kelaparan.

Mereka menenteng tas yang mereka sudah pilih tidak hanya satu tas per orang, bahkan ada yang tiga atau empat tas sekaligus dijinjingnya (they are the true Indonesian Miss Jinjings). Kebayang dong, kalau satu tas harganya Rp 50 juta, biar kata sudah didiskon 20-30 persen, tetap saja ya, buat saya mehong (mahal).”

Dalam paragfraf lain ia mengisahkan,

“Hal yang sama juga terjadi saat sale Gucci. Langsung deh, nuansa hysteria, euphoria, panik, berbaur jadi satu di satu ruangan seakan orang takut banget tidak kebagian barang-barang Italia, berlabel diskon 30-50 persen. Alasan-alasan piranha-piranha cantik yang sebagian teman saya juga, katanya, “Ya, paling gak, masih lebih murah daripada berangkat sendiri ke Milan.” Padahal kalau lihat belanjaan para Madame Jinjing itu, ujung-ujungnya, total belanjaan mereka (dengan excuse, ini sudah diskon 50 persen) lebih dari cukup untuk pergi ke Milan PP (pulang-pergi, pen) dan biaya shopping di sana.”

Manusia ‘pemburu’ nilai juga disebut manusia konsumtif yang tidak manusiawi, karena mereka membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan—padahal di sekeliling mereka—masih banyak orang-orang yang tidak bisa sekolah karena ketiadaan biaya, tidak bisa tinggal di rumah layak karena ketiadaan uang, dan tidak bisa makan sepantasnya karena ketiadaan serana untuk membelinya.

Alih-alih peduli, orang-orang kaya ini justru semakin bertindak yang membuat orang-orang miskin menjadi tambah sakit hati. Bila sudah seperti ini, nuansa kekeluargaan dalam bermasyarakat menjadi hilang dan nuansa gotong-royong menjadi sirna. Inilah efek derivatif dari penerapan teori nilai dalam sistem ekonomi kapitalis.

Kritik Ketiga

Pandangan sistem ekonomi kapitalis terkait peran harga dalam mengendalikan kegiatan ekonomi berupa produksi, konsumsi, dan distribusi juga merupakan suatu kekeliruan,  dilihat dari aspek-aspek sebagai berikut:

Pertama, dalam pandangan sistem ekonomi kapitalis, harga adalah pendorong seseorang berproduksi, baik yang berupa barang atau jasa. Menurut para kapitalis, harga adalah motivasi utama seseorang menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat, yang dengan itu ia akan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan cara memanfaatkannya.

Kesalahan pandangan ini terletak pada sikap menafikan motivasi lain selain imbalan materi di dalam memproduksi suatu produk. Padahal pada faktanya, terkadang orang atau pabrik memproduksi barang dan jasa hanya untuk beramal semata. Hasil produksi memang dijual, tetapi uang hasil penjualan selanjutnya digunakan untuk kepentingan lain seperti membantu fakir miskin, menolong orang terlantar, memberikan beasiswa kepada siswa putus sekolah, dan lain sebagainya.

Kedua, paradigma kapitalisme yang memandang bahwa harga akan membentuk sebuah mekanisme yang menyeimbangkan antara produksi dan konsumsi, pada kenyataannya justru bukan menjadi penyeimbang, malah menjadi instrumen yang menyebabkan terjadinya ketimpangan konsumsi! Penjelasannya begini.

Harga adalah medium antara produsen dan konsumen. Produsen dapat mengetahui produknya diingini konsumen apabila produknya tersebut laris dibeli. Dan ia dapat mengetahui sejauhmana keinginan masyarakat terhadap produknya hanya dengan mengamati tingkat pembelian produknya di pasar yang harganya melambung. Semakin melambung namun tetap laris, berarti produk tersebut memang benar-benar diinginkan oleh konsumen. Dengan fakta ini, produsen biasanya akan membuat kebijakan terbaru terkait jumlah produksi dan harganya.

Mekanisme seperti ini memang membuat tingkat produksi dan konsumsi menjadi seimbang. Produksi akan naik apabila permintaan naik. Sebaliknya, produksi pun akan turun seiring melemahnya tingkat permintaan. Hal inilah yang kemudian menjadikan harga dikatakan sebagai penyeimbang antara kegiatan produksi dan konsumsi.

Namun sebagaimana dikatakan di awal, alih-alih menjadi penyeimbang, konsep harga dalam sistem ekonomi kapitalis justru menjadi instrumen yang bertanggungjawab pada terciptanya aktivitas konsumsi yang timpang. Dengan alasan harga yang tidak terjangkau, berapa banyak orang yang tidak mampu mengakses pendidikan formal dan memperoleh tempat tinggal memadai? Jawabnya, sangat banyak!

Tercatat, sebanyak 527.850 anak atau 1,7 persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah tiap tahunnya.  Pada tingkat SMP dan MTs, tercatat ada 211.643 siswa yang putus sekolah tiap tahunnya.  Dan tentu saja, selain kenakalan remaja, faktor ekonomi keluarga adalah penyebab utamanya.

Ini hanyalah salah satu contoh betapa ketimpangan konsumsi produk dan jasa yang ada di masyarakat begitu luar biasa. Dan itu disebabkan oleh (salah satunya) konsep kapitalisme tentang harga. Dengan segala kelemahan yang dimiliki oleh sistem ekonomi kapitalis, tidakkah kita segera mencampakkannya dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik?

(Adnan Syafi’I, BKLDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Sumber: http://dakwahkampus.com/pemikiran/ekonomi








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.